ELPIJI DAN SEGITIGA API

ELPIJI erat kaitannya dengan Segitiga Api yang terdiri dari 3 unsur, yaitu Bahan Bakar, Udara, dan Pemicu.

Dalam dunia Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), dikenal istilah segitiga api.  Dalam bahasa Inggris disebut Fire Triangle, terjemahannya yang lebih tepat mungkin segitiga kebakaran. Tapi kebakaran juga sering diteriakkan : “Api! Api!”, khan?

Maksud dari segitiga api adalah tiga komponen untuk menyebabkan nyala api atau kebakaran. Bila salah satu saja tidak ada, tidak akan ada nyala api atau kebakaran.

Ketiga komponen itu adalah: bahan bakar, udara, dan pemicu.

BAHAN BAKAR

Apapun yang kita kenal yang bisa terbakar atau menyala. Salah satunya: adalah ELPIJI.

UDARA

Permukaan yang ada di bumi ini sebenarnya merupakan dasar samudra udara. Kita yang berada di atas permukaan bumi sebenarnya tenggelam dalam udara. Permukaan bumi diselimuti udara atau lapisan atmosfer. Komponen udara yang utama adalah Nitrogen (79%), kemudian Oksigen (20%), sisanya Lain-lain (1%). Bila disebut udara, maka yang dimaksudkan adalah campuran gas yang komposisinya adalah seperti barusan yang disebutkan di atas.

PEMICU

Lebih tepat disebut sebagai pemicu nyala, atau pemicu kebakaran. Ini adalah energi (dalam bentuk panas) yang cukup untuk memulai reaksi oksidasi yang berkesinambungan (sustainable). Bentuk nyatanya bisa berupa percikan bunga api dari batu geretan, bunga api dari pemantik kwarsa, api dari korek api, atau apa saja.

Bila salah satu dari yang tiga tersebut di atas tidak ada, maka tidak akan ada nyala atau kebakaran.

Selain itu, komposisi atau kadar bahan bakar di udara harus pada kondisi tertentu, baru bisa dipicu untuk menyala. Elpiji akan dapat dinyalakan bila konsentrasinya di udara berada antara 2% sampai 10%. Bila kurang dari 2%, atau lebih dari 10%, Elpiji tidak dapat dipicu untuk menyala.

Energi yang diperlukan untuk menyalakannya pun berbeda-beda. Pada suhu yang rendah dan konsentrasi Elpiji yang lebih tinggi, energi untuk menyalakannya perlu lebih besar. Para pendaki gunung pasti pernah mengalami kesulitan menyalakan kompor atau lentera gas dengan pemantik kuarsa. Bunga api terlihat meletik, tetapi gas tersebut tidak mau menyala. Diperlukan batu geretan atau korek api kimia untuk menyalakan gas pada cuaca yang dingin.

Nyala api adalah indikasi terjadinya reaksi oksidasi (pembakaran), yaitu bergabungnya oksigen dengan bahan bakar, membentuk dua zat lain (air dan karbon dioksida), seraya mengeluarkan panas. Kalau reaksinya tidak sempurna, hasilnya bukan cuma Air (H2O) dan Karbondioksida (CO2), tetapi ada serombongan zat lain, yang berguna maupun yang beracun, yang akan dihasilkan. Reaksi oksidasi yang sempurna tidak berwarna, tapi bisa terlihat sebagai warna biru. Bila api berwarna merah, artinya ada kekurangan oksigen, atau terlalu banyak bahan bakar. Ini boros, mengeluarkan racun, dan membuat pantat wajan menjadi hitam. Api merah dengan semburan api yang khas disukai para penjaja nasi dan mie goreng. Oleh karena itu mereka menggunakan regulator Elpiji yang bisa disetel, agar nyala api bisa disesuaikan dengan kehendak orang tersebut atau kehendak kita sebagai pemakai.

Nyala api adalah reaksi oksidasi yang cepat, sehingga panas yang dihasilkannya membentuk lidah api (plasma) yang dapat kita lihat. Reaksi oksidasi dapat berlangsung perlahan-lahan, panas yang ditimbulkannya tidak dapat menimbulkan plasma, dan dampaknya baru dapat teramati setelah waktu yang lama. Karat dan halaman buku yang menguning adalah dua contoh reaksi pembakaran yang berlangsung perlahan-lahan.

Selain oksigen, zat lain yang dapat membakar adalah chlor. PDAM menggunakan chlor untuk membunuh kuman dalam air. Kalau oksigen membuat kita hidup, chlor membunuh. Tetapi kalau chlor bergabung dengan natrium, kita menggunakannya sehari-hari untuk melezatkan masakan.



%d blogger menyukai ini: